Perencanaan Bisnis Kelas I, Kelompok 9, PT Trisula Textile Industries Tbk, Manajemen Unair

Perencanaan Bisnis Kelas I, Kelompok 9, PT Trisula Textile Industries Tbk, Manajemen Unair


perkembangan industri tekstil di Indonesia saat ini sudah sangatlah pesat. Bahkan, hingga akhir 2018, Indonesia menargetkan untuk menembus angka US$14 millar. Salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang ini adalah PT Trisula Textile Industries, Tbk Perusahaan yang berlokasi di Bandung ini, diprakarsai oleh Bapak Tirta Suherlan sejak tahun 1968. Produk dari PT Trisula, sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Mengapa demikian? Karena perusahaan ini telah bersertifikasi Standar Nasional. Selain itu, dalam proses produksi perusahaan ini, digunakan mesin-mesin canggih yang menjamin kestabilan kualitas, lead-time yang singkat, dan pengiriman yang tepat waktu. Namun, sayangnya, perusahaan ini belum berani menjangkau pasar niche. Selain itu, adanya ancaman imitasi produk dari pihak luar, juga akan menjadi penghambat bagi perkembangan perusahaan ini. Tetapi, sepertinya, PT Trisula tidak perlu lagi khawatir karena peluang yang tersedia juga jauh lebih besar. Perkembangan industri tekstil dan keberagaman budaya Indonesia merupakan peluang-peluang besar yang akan membuka pintu untuk PT Trisula dalam melebarkan sayap bisnisnya. Analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman akan membantu kita dalam mengetahui poin dimensi mana yang digunakan dalam proses bisnis perusahaan ini, yaitu what, how, dan why. (Poin) What: merupakan dimensi yang berkaitan dengan target pasar mana yang akan disasar pada saat menjalankan ide inovasi baru. Poin How: menjelaskan bagaimana perusahaan mampu mengatasi masalah keterbatasan alur distribusi dan kemonotonan dari hasil produksi. Dan yang terakhir adalah poin Why, (yang) menjelaskan tentang alasan mengenai cara apa yang tepat dilakukan untuk meningkatkan keefektifan agar lebih maju dan dapat mengatasi masalah keterbatasan alur distribusinya. Jika berbicara tentang model bisnis, model bisnis apakah yang menjadi pilihan PT Trisula dalam menjalankan bisnisnya? Model bisnis yang dipilih adalah Mass Customization. Mass Customization sendiri menjelaskan tentang penyesuaian produk berdasarkan kebutuhan setiap pelanggan, namun harus tetap dilakukan seefisien mungkin seperti dalam memproduksi produk massal, yang tentunya, dengan harga yang lebih bersaing. Pada awalnya, perusahaan ini menjalankan business-to-business customer. Namun, kini, PT Trisula ingin mencari pasar yang lebih luas, dengan mulai bergerak di pasar business-to-customer. Hal ini dilakukan dengan cara memproduksi busana muslim. Perubahan pasar dari business-to-business ke business-to-customer membutuhkan business reengineering karena proses produksi busana muslim tentu berbeda dengan proses memproduksi seragam kantoran, yang selama ini telah dilakukan oleh PT Trisula. Menurut Osterwalder dan Pigneur, Business Model Canvas terbagi menjadi sembilan bagian, yaitu (1) Customer segments, (2) Value propositions, (3) Channels, (4) Customer Relationship, (5) Revenue Stream (6) Key Resources, (7) Key Activities, (8) Key Partnership, dan (9) Cost Structure. Berikut adalah sembilan poin Business Model Canvas dalam PT Trisula: Jadi, bagian pertama dari business model canvas adalah Segmen konsumen yang dibutuhkan oleh PT Trisula terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah perusahaan yang membutuhkan seragam untuk kegiatan operasional mereka sehari-hari, dan yang kedua adalah para retailer yang membutuhkan kain berkualitas untuk memproduksi kembali. Bagian kedua adalah tentang Value proposition menjelaskan mengapa konsumen harus memilih PT Trisula sebagai produsen dari kain yang dibutuhkan oleh mereka. Alasannya adalah karena PT Trisula menciptakan kain yang bermutu tinggi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Dan yang ketiga ada Revenue stream merupakan cara yang digunakan oleh PT Trisula untuk memperoleh dana dalam menjalankan kegiatannya. Dengan menggunakan metode Asset Sale, yaitu metode dengan cara menjual kain dan baju yang diproduksi bagi konsumennya. Bagian keempat dari business model canvas adalah Cost Structure sendiri merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh PT Trisula untuk menjalankan kegiatan operasionalnya. Terdiri dari tiga, yang pertama yaitu cost-driven, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bahan baku. Yang kedua itu adalah fixed cost, biaya yang dikeluarkan untuk membiayai para karyawannya dalam satu bulan. Dan yang ketiga ada variable cost, yaitu berdasarkan jumlah permintaan dari berapa banyaknya pesanan yang akan diproduksi dalam satu periode. Poin yang kelima adalah channels. PT Trisula telah memasarkan produknya ke berbagai daerah dengan menggunakan jaringan distributor yang telah tersebar di lima kota besar di Indonesia, yaitu Jakarta, Medan, Bandung, Semarang, dan Surabaya. Poin yang keenam adalah customer relationship. Ada lima poin utama yang dilakukan oleh PT Trisula dalam menjaga hubungan baik dengan konsumennya, yaitu integrity, professional, customer-focus, ownership and entrepreneurship, dan growing together. Poin yang berikutnya adalah Key Activities. Kegiatan wajib yang dilakukan oleh PT Trisula Textile Industries adalah melakukan produksi dengan mendesain seragam dan kain dalam jumlah besar secara massal. Poin yang kedelapan adalah key resources. PT Trisula memiliki sumber daya yang unggul karena semua produk yang dihasilkan telah memenuhi SNI, mempekerjakan karyawan kurang lebih 700 orang, baik dari sektor perkantoran maupun operator yang bekerja pada lantai produksi, dan selain menggunakan modal sendiri, PT Trisula juga memiliki sejajaran investor yang ikut memainkan perannya pada perusahaan. Poin yang terakhir adalah key partnership. Dalam mewujudkan produk dan jasa yang memiliki value yang kuat, PT Trisula memilih dua strategi dalam menentukan partnershipnya. Yang pertama adalah Strategic Alliance, di mana PT Trisula bekerja sama dengan tiap-tiap perusahaan yang memerlukan seragam dari perusahaan ini. Dan yang kedua adalah Supplier Relationship, di mana PT Trisula dapat menjual pada toko-toko retail yang berada di sekitarnya. Setelah kita membahas Business Model Canvas, mari kita membahas bagaimana PT Trisula menerapkan re-engineering-nya. Dalam mengembangkan busana muslim sebagai produk barunya, perusahaan ini bekerja sama dengan beberapa desainer seperti Ivan Gunawan dan Oscar Lawalata. Selain itu, perusahaan ini juga mulai menjajaki program marketing online, meningkatkan market survey, dan mengembangkan fashion muslim. Namun, untuk produk ini, perusahaan lebih ingin berfokus pada (fitur) customize. Lantas, bagaimanakah kondisi PT Trisula sebelum dan sesudah diadakannya proses reengineering? Sebelum dilakukannya proses reengineering, perusahaan ini hanya berfokus melayani pasar business-to-business. Hal ini dapat memberikan keuntungan bagi Trisula Textile karena pesanan yang masuk jumlahnya masif. Akan tetapi, dengan kualitas kain yang dimilikinya, Trisula Textile juga memiliki peluang yang besar dalam menguasai pasar business-to-customer. Kemudian, kondisi PT Trisula setelah diadakannya proses reengineering, adalah PT Trisula tidak melakukan perubahan struktur organisasi, insentif, bonus, dan remunerasi. Kemudian, PT Trisula memutuskan untuk lebih berfokus kepada pasar business-to-business dan business-to-customer, sehingga, pangsa pasarnya menjadi lebih luas dan brand awareness menjadi lebih kuat di kalangan masyarakat. Berdasarkan hasil studi kelayakan yang kami buat, jika investasi yang ditanamkan sebesar Rp450juta, akan menghasilkan NPV sebesar Rp1,3miliar dengan IRR sebesar 168,6%, yang artinya, ide reengineering ini layak untuk dijalankan dan dengan demikian, investasi ini akan dapat kembali dalam kurun waktu 6 bulan 8 hari. Script Writer: Astrid Kusumawati dan Weni Reina Damanik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *